Refleksi “8”0 Tahun Sumpah Pemuda

Setiap zaman punya pahlawannya.

Sekelompok pemuda menculik soekarno-hatta dan membawa mereka ke Rengasdengklok. Hari itu tepat jatuh pada tanggal 16 Agustus 1945. Kabar Jepang telah dibom oleh sekutu sudah sampai ke para pejuang kemerdekaan. Para pemuda memiliki keyakinan jika Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan saat itu juga maka kemerdekaan yang telah dicita-cita akan akan segera terwujud. Tetapi pembahasan penetapan deklarasi kemerdekaan itu berjalan alot. Beberapa orang yang sudah memakan banyak asam garam dalam perjuangan, golongan tua, menyarankan agar deklarasi kemerdekaan menunggu kepastiaan dan rencana Jepang selanjutnya. Para pemuda menolak dan terus mendesak golongan tua untuk secepatnya mendeklarasikan kemerdekaan. Akhirnya setelah melalui perdebatan alot bahkan sempat bersitegang maka diputuskan esok harinya atau bertepatan tanggal 17 Agustus 1945 dipilih sebagai waktu untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia.

Hikmah dari cerita di atas adalah bagaimana kelompok tua dan muda dapat berjuang saling melengkapi dalam perjuangan memperoleh kemerdekaan Indonesia. Kelompok muda mendesak dengan semangat yang membara sedangkan kelompok tua dengan pengalamannya menyarankan agar bangsa Indonesia mencari waktu yang tepat setelah situasi menjadi jelas. Cerita di atas merupakan bagian dari sejarah kepemudaan yang ikut andil dalam proses kemerdekaan Indonesia.

Makna sumpah pemuda begitu dalam di lubuk hati kita. Mungkin kita senantiasa mengingat sumpah ini sebagai bentuk heriosme bangsa Indonesia. Bukan hanya sekadar ucapan di lisan, tetapi mendorong terjadinya perubahan sosial yang begitu besar yaitu ikut andil dalam memerdekakan bangsa ini. Sumpah pemuda saja tidak dapat mengubah kondisi bangsa. Mutlak diperlukan kerja keras dan perjuangan yang tiada kenal lelah.

Tidak terasa kini sudah 80 tahun berlalu setelah dideklarasikan oleh para pendahulu kita. Mereka telah menjadi tua, renta, dan selanjutnya mati. Jadi teringat kredo Chairil Anwar, -sekali berarti selanjutnya mati-. Sekali-kali iseng kita perlu menjawab kredo tersebut -sekali berarti akan terus berarti-. Karena kepemudaan itu adalah jiwa maka walau jasad telah berubah atau tiada tetapi semangat masih dapat terus hadir.

Apa itu Pemuda?

Pemuda. Apa sebenarnya definisi yang tepat untuk pemuda? Sejauh ini terminologi pemuda seringkali begitu lebar dan umum. Bahkan ada organisasi kepemudaan mendefinisikan pemuda hingga usia 40-50 tahun. Tetapi agar tidak terjebak kepada perdebatan definisi kita simak dari karakteristik pemuda. Beberapa karakteristik kepemudaan dari penggalan kisah di awal, diantaranya

Penuh semangat, setiap waktu senantiasa menampilkan energi yang berlimpah dan memancarkan antusiasme.

Idealis, keinginan yang digantung tinggi melahirkan cita-cita. Fokus kepada tujuan bukan kepada realita.

Kritis, keingintahuan yang besar akan membuat mempertanyakan dan membandingkan setiap kondisi dan keadaan yang belum dimengerti atau senantiasa terdorong untuk menyampaikan apa yang diketahuinya.

Berani, seorang pemuda belum memiliki banyak pikiran sehingga langkah yang diambil taktis dan cepat. Pemikiran yang pendek justru melahirkan keberanian yang jarang dimiliki oleh orang yang lebih banyak pertimbangan.

Pengorbanan, bergerak dan berjuang mengejar cita-cita sering lupa pada diri sendiri atau menjadikan diri itu sebagai jaminan yang diberikan dalam mengisi perjuangan sehingga menjadi sebuah pengorbanan.

Perjuangan Kepemudaan di KM ITB

Elemen-elemen kemahasiswaan di KM ITB, yaitu kongres, kabinet, himpunan, dan unit adalah wadah menyalurkan potensi bagi mahasiswa ITB. Melalui organisasi kemahasiswaan inilah mahasiswa membentuk karakter diri menjadi insan akademis. Tidak cukup sampai di sana. Potensi tersebut perlu dimanifestasikan dalam rangka mempercepat usaha mensejahterakan rakyat. Karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kesempatan mendekati pengetahuan.

Beberapa bentuk langkah kongkret tersebut tercermin dalam aktivitas mahasiswa seperti rumah belajar KM ITB, satu indonesia SBM, Pikohidro HME, Membranisasi Cikapundungnya Himatek, dan banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Langkah kongkret tersebut perlu dipahami bukanlah sebagai solusi generik dari persoalan bangsa ini tetapi sebagai kepeduliaan mahasiswa melihat realita bangsa dan tentu saja perlu mendapat dukungan dan apresiasi. Solusi tetap ada dalam tanggung jawab negara sebagai lembaga yang diamanahkan oleh konstitusi. Jadi, selain kita perlu berperan membantu masyarakat secara langsung (kultural) kita juga perlu memberikan hak pemimpin, yaitu mengingatkan dalam kebijakan-kebijakannya (struktural). Saat ini, KM ITB memiliki GKN atau Gerakan Kemandirian Nasional. GKN ini merupakan arah gerak KM ITB dalam menjawab berbagai macam permasalahan bangsa ini. GKN tidak akan berjalan tanpa ada driver dan driver tersebut adalah kita, mahasiswa, karena komponen terpenting dari KM ITB adalah mahasiswa itu sendiri.

Kita adalah manusia yang memiliki hawa nafsu, kadang semangat kadang sebaliknya, mengenang sumpah pemuda adalah usaha kita untuk terus menghadirkan semangat kebersamaan dalam berkontribusi dan memberikan yang terbaik untuk bangsa ini. Karena zaman itu punya pahlawan maka kita tinggal memilih, mau kah kita menjadi pahlawan itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s