KISAH NETTY PRASETIYANI MENDAMPINGI AHMAD HERYAWAN

NETTY PRASETIYANI

“Jadi saya yakin betul, ketika seseorang berpegang teguh pada nilai kebenaran, itu tidak akan dapat dipengaruhi oleh faktor yang lain.”

NETTY PRASETIYANI Istri Gubernur Jabar

Perjalanan hidup setiap orang pasti akan menemui tantangan, namun bila dihadapi dengan dasar keyakinan atas kebenaran yang kuat, segalanya akan berbuah kebahagiaan. Segala hambatan, hingga keprihatinan yang harus dijalani, menjadi seperti air yang mengalir. Sempat berkelok-kelok, tapi akhirnya sampai juga di muara sungai dengan hamparan laut yang luas.

Hal itu juga dialami Netty Prasetiyani, sebelum mendampingi suaminya, Ahmad Heryawan, menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013. Menurut Netty, jabatan orang nomor satu di Jawa Barat itu selayaknya lautan lepas, bahtera dan anginnya akan terasa lebih kencang dibandingkan ketika berada pada titian aliran sungai.

Titik utama perannya sebagai pendamping Ahmad Heryawan, dijalankan Netty sejak dilangsungkan pernikahannya pada Januari 1991. Proses pertemuannya Netty dan Heryawan tidak seperti kalangan anak muda sekarang yang melakukan pendekatan alias pedekate, lalu jalan bersama ke mal atau ke tempat lain sebagai upaya untuk saling mengenal. “Waktu itu kita masih sama-sama kuliah. Saya di semester 7 dan suami saya sudah semester akhir sedang menyusun skripsi. Kami dipertemukan pada November 1990 dan menikah 13 Januari 1991,” tutur Netty saat ditemui di Gedung Pakuan, Sabtu (20/12) malam. Awal pertemuannya, diakui Netty melalui sang mediator atau istilah kerennya mak comblang. Mediatorlah yang memaparkan profil dan figur calon suaminya. Netty yang saat itu sudah berusia 22 tahun memang sudah berniat untuk menikah dan sedang mencari calon. Kebetulan profil dan figur yang dipaparkan sang mediator itu dirasakan cocok, maka dilanjutkannya dengan upaya pemantapan untuk mengetahui lebih jauh soal sosok figur yang akan menjadi calon suaminya.

“Saya merasa cocok, karena figur calon suami terlihat mandiri. Dan memang sebelumnya, kita sama-sama mahasiswa yang aktif dengan kegiatan di organisasi rohani Islam, sehingga sering bertemu dalam berbagai kesempatan. Dan kegiatan itu juga dijadikan sebagai media melakukan pemantapan. Jadi kami sering bertemu, tapi selalu bareng-bareng dengan teman yang lain,” katanya.

Sebelum memasuki jenjang pernikahan, diakui Netty beberapa hambatan muncul, terutama dari soal restu pihak keluarganya. Berbagai alasan saat itu mencuat, seperti kondisi masih kuliah hingga soal kesukuan yang menyebutkan tidak baik perempuan keturunan Jawa menikah dengan laki-laki keturunan Sunda.

“Memang orangtua masih punya pandangan seperti itu, tapi tidak terlalu kental. Alhamdullillah, akhirnya mereka merestui juga,” ungkapnya.

Uniknya, semua hambatan yang muncul dari keluarganya itu tidak pernah diungkapkan kepada calon suaminya. Netty berupaya sendiri untuk meyakinkan keluarganya, bahwa calon suami yang akan dipilihnya memiliki kepribadian yang baik.

“Jadi saya yakin betul, ketika seseorang berpegang teguh pada nilai kebenaran, itu tidak akan dapat dipengaruhi oleh faktor yang lain. Itu yang membuat saya mantap. Kami punya keyakinan yang sama dan kecocokan kriteria calon pendamping,” jelasnya. Upaya meyakinkan keluarganya, diakui Netty hanya bermodalkan keyakinan dirinya atas kebenaran yang nyata yang terlihat pada calon suaminya. Netty melihat bahwa calon suaminya memiliki keyakinan yang sama dengan dirinya.

“Saya baru memberitahu suami soal hambatan keluarga itu, setelah menikah. Hambatan keluarga itu, saya anggap sebagai bentuk perlindungan keluarga kepada saya sebagai anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara,” jelasnya.

Setelah diberitahu soal adanya hambatan dari keluarga, menurut Netty, suaminya Ahmad Heryawan tidak merasa tersinggung atau tertekan. Kenyataan itu justru membangkitkan semangatnya untuk mewujudkan keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah dan warahmah. (ddh/*)

Sumber: Harian Tribun Jabar

5 thoughts on “KISAH NETTY PRASETIYANI MENDAMPINGI AHMAD HERYAWAN

    1. Alhamdulillah, sampai sekarang kami sudah mengayuh bahtera rumah tangga selama 18 tahun 7 bulan 18 hari dan dikaruniai enam anak… Insya Allah komunikasi, saling pengertian, dan kerjasama semakin baik, dewasa, dan matang. Doakan agar ini menjadi modal untuk menyumbangkan energi kebaikan di Jawa Barat…

  1. aduuh,,,jadi hoyong enggal2 gaduh istri eung bu,,,mung teu acan ka pendak abdina ku istri anu janteun calon abdi. hehehehe…waduuh inspirasi yeuh kango nyarios ka murobbi akhwat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s